Penyebab Preeklampsia dan Pencegahannya

Sampai saat ini, penyebab preeklampsia masih belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli percaya bahwa preeklamsia diawali dengan adanya kelainan pada plasenta, yaitu organ yang berfungsi menerima suplai darah dan nutrisi bagi bayi selama masih di dalam kandungan.

Pada wanita dengan preeklamsia, pertumbuhan dan perkembangan pembuluh darah plasenta mengalami gangguan. Pembuluh darah menjadi lebih sempit dari yang seharusnya, serta melakukan reaksi berbeda terhadap rangsangan hormon. Kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya jumlah darah yang bisa dialirkan.

Adapun beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seorang wanita hamil mengalami preeklampsia, di antaranya:

  • Kehamilan pertama.
  • Pernah mengalami preeklampsia pada kehamilan sebelumnya.
  • Kekurangan nutrisi.
  • Sedang menderita beberapa penyakit tertentu, seperti sindrom antifosfolipid, diabetes, lupus, hipertensi, atau penyakit ginjal.
  • Mengandung lebih dari satu janin.
  • Bayi pada kehamilan saat ini memiliki ayah yang berbeda dengan kehamilan sebelumnya.
  • Hamil setelah jeda 10 tahun dengan kehamilan sebelumnya.
  • Hamil di bawah usia 20 tahun atau di atas usia 40 tahun.
  • Obesitas saat hamil dengan indeks massa tubuh 25 atau lebih.
  • Memiliki keluarga dengan riwayat preeklampsia.

Diagnosis Preeklamsia

Jika wanita hamil rutin memeriksakan kandungannya setiap bulan, maka gejala-gejala preeklamsia bisa cepat terdeteksi bilamana ada dan ditangani. Untuk mendiagnosis preeklamsia, biasanya dokter harus memastikan dulu apakah pasien mengalami hipertensi yang disertai satu atau lebih tanda klinis lainnya, seperti:

  • Adanya kandungan protein dalam urine atau gejala gangguan ginjal lainnya.
  • Gangguan penglihatan.
  • Adanya cairan dalam paru-paru.
  • Sakit kepala.
  • Rendahnya jumlah trombosit.
  • Gangguan fungsi hati.

Baca juga : Tekanan Darah Tinggi Salah Satu dari Gejala Preeklampsia

Jika dokter mencurigai adanya preeklamsia dari hasil pemeriksaan tekanan darah, maka pasien biasanya akan diminta untuk menjalani beberapa pemeriksaan, seperti:

  • Ultrasonografi (USG). Dalam tes ini, dokter akan memeriksa berat janin dan jumlah air ketuban. Kurangnya air ketuban adalah salah satu tanda rendahnya suplai darah ke janin.
  • Pemeriksaan darah. Dari pemeriksaan ini dapat diketahui kinerja organ hati dan ginjal, serta jumlah trombosit dalam darah.
  • Analisis urine. Dari sampel urine kolektif selama 24 jam dapat diperiksa kandungan protein, sementara dari sampel urine tunggal (sewaktu) dapat diperiksa perbandingan kadar protein dan kreatinin.
  • Nonstress test atau NST. Pada pemeriksaan ini diukur detak jantung bayi saat bergerak di dalam kandungan.

Pengobatan dan Pencegahan Preeklamsia

Setelah anda mengetahui tentang penyebab preeklampsia, kali ini kita akan membahas mengenai pencegahannya. Baca terus untuk mengetahui lebih banyak tentang pengobatan dan pencegahan preeklampsia.

Apabila seorang wanita hamil memiliki risiko tinggi untuk mengalami preeklamsia, biasanya dokter akan memberikan aspirin dosis rendah, mulai dari usia kehamilan 12 minggu sampai bayi lahir, untuk menurunkan risiko terkena preeklamsia.

Wanita yang kekurangan asupan kalsium sebelum dan saat kehamilan, juga akan disarankan mengonsumsi suplemen kalsium untuk mencegah preeklampsia. Meski demikian, wanita hamil sebaiknya jangan mengonsumsi obat, vitamin, atau suplemen apa pun tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan.

Pada dasarnya, hanya proses kelahiranlah yang bisa menyembuhkan preeklamsia. Jika preeklamsia muncul ketika usia janin belum cukup untuk dilahirkan, dokter kandungan akan memonitor kondisi tubuh penderita dan bayi dengan seksama, hingga usia bayi sudah cukup untuk dilahirkan. Dokter juga biasanya akan lebih sering melakukan pemeriksaan darah dan USG terhadap pasien.

Ketika preeklamsia semakin parah, wanita hamil akan disarankan untuk rawat inap di rumah sakit sampai janin siap dilahirkan. Dokter akan menjalankan pemeriksaan NST secara rutin guna memantau kesehatan janin.

Jika preeklamsia muncul ketika usia janin sudah cukup untuk dilahirkan, biasanya dokter akan menyarankan tindakan induksi atau bedah caesar untuk mengeluarkan bayi sesegera mungkin. Langkah ini diambil agar preeklamsia tidak berkembang menjadi lebih parah.

Obat-obatan yang biasanya diberikan pada wanita hamil yang menderita preeklamsia adalah:

  • Antihipertensi. Dokter akan meresepkan obat penurun tekanan darah yang aman bagi janin dan ibunya.
  • Kortikosteroid. Paru-paru janin bisa berkembang lebih cepat dalam waktu singkat dengan bantuan obat ini. Selain itu, kortikosteroid juga dapat meningkatkan kinerja liver dan trombosit, sehingga kehamilan dapat dipertahankan lebih lama
  • Antikejang. Dokter bisa saja meresepkan obat antikejang jika preeklamsia yang diderita cukup parah, agar terhindar dari munculnya kejang.

Baca juga : Obah Pasca Operasi Caesar Dari Herbal

Related Post

Buah buahan yang Mengandung Kalsium, Sehat Untuk I... Tahukah Bunda bahwa kalsium merupakan mineral yang paling banyak ditemukan dalam tubuh manusia? Rata-rata tubuh manusia dewasa mengandung sekitar 1 kg...
10 Manfaat Kesehatan Apel Hijau Selama Kehamilan Makanan sehat selama kehamilan mungkin banyak pilihannya yah Bun. Tapi bagaimana dengan apel hijau? Apakah apel salah satu makanan yang sehat selama k...
Jarak Melahirkan Normal Setelah Operasi Caesar Jarak melahirkan normal setelah operasi caesar memang menjadi pertanyaan yang sering diajukan para Ibu yang ingin melahirkan pasca operasi caesar. Luk...
11 Tips Penyembuhan Luka Operasi Caesar Agar Cepat... Pemulihan operasi caesar memakan waktu lebih lama dibandingan persalinan normal. Oleh karena itu, bisa menjadi sedikit lebih menantang yah Bunda. ...
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *